Jaringan 5G, Buat Apa?

image source : Business vector created by katemangostar – www.freepik.com

Oleh. Fita Indah Maulani

Aktivitas masyarakat yang serba digital mendorong peningkatan lalu lintas data secara signifikan. Utilisasi jaringan 4G di daerah padat penduduk dan perindustrian cukup tinggi sehingga berdampak pada turunnya kecepatan akses data hingga mengganggu aktivitas pengguna.

Teknologi baru diperlukan untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan kehadiran jaringan 5G. Ada banyak keunggulan dari teknologi ini, salah satunya pada kecepatan akses data yang akan membuat pengguna semakin nyaman dalam dunia digital.

Teknologi 5G menawarkan kecepatan akses hingga di atas 1 Gbps (giga byte per second) dapat memberikan pengalaman menonton video yang sempurna.  Bahkan, digadang-gadang membuat proses belajar mengajar daring lebih menarik, pelajar atau mahasiswa tidak hanya menatap layar gawai, juga seakan-akan berada di ruangan yang sesungguhnya lewat realitas maya atau virtual reality. 

Layanan 5G akan semakin stabil dengan dukungan jaringan fiber optik, salah satunya yang disediakan oleh PT Alita Praya Mitra untuk operator seluler Indosat Ooredoo di Solo yang baru diluncurkan beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu, karakteristik 5G yang bergerak di bandwidth besar, membuat teknologi ini mampu mendukung aktivitas jutaan perangkat sekaligus dalam satu waktu. Hal ini dapat mendorong hadirnya lebih banyak kota pintar di Indonesia dengan memanfaatkan solusi Internet of Things (IoT).

Jutaan sensor dan perangkat terkoneksi dengan internet seperti lampu pintar, kamera pengawas, sistem peringatan terjadinya bencana seperti banjir dan gempa, hingga kualitas udara di suatu kota dapat beroperasi secara bersamaan lewat jaringan 5G. Kondisi ini tak dapat dilakukan dengan jaringan 4G, yang memiliki bandwidth lebih sempit.

5G juga memiliki latensi rendah, di bawah 1 milidetik, membuat automasi kendaraan hingga operasi jarak jauh di industri kesehatan sangat mungkin terjadi di masa mendatang.  Keunggulan ini diprediksi meningkatkan nilai ekonomis, perpaduan dari naiknya efisiensi dan efektivitas.

Adapun terkait dengan IoT, jaringan 5G mendukung terhadap jaringan yang bersifat  standalone. Sebuah perkotaan yang padat, atau kawasan perindustrian yang ingin melakukan lompatan digital akan memperoleh manfaat dari jaringan 5G.

Dalam acara Virtual Lunch and Learn ICT Tren 2021 – 2024 yang didukung oleh Asosiasi Internet of Things Indonesia (ASIOTI) pekan lalu, Direktur Utama PT Alita Praya Mitra Teguh Prasetya mengatakan  dari sisi infrastruktur, 5G hadir dalam beberapa rilis. Setiap rilis membawa keunggulannya masing-masing.

Untuk diketahui, 5G diperkenalkan oleh operator telekomunikasi beberapa waktu lalu, adalah 5G rilis 15 Secara global, rilis 15 telah diperkenalkan oleh 3GPP pada 2020 -2021.

Rilis 15 menawarkan 5G dengan keunggulan kecepatan layanan data, sehingga pengguna dapat mengunduh atau menggunggah data, dengan kecepatan 5 – 20 kali lebih cepat dari 4G.

Setelah 2021 diperkirakan hadir rilis 16, yang membawa banyak keunggulan khususnya pada perangkat IoT karena rendahnya latensi, slicing, frekuensi tak berlisensi (unlicensed)masif konektivitas dan lain sebagainya.

Teguh mengatakan rilis 16 kemungkinan akan dikenal dengan istilah 5.2G. Kemudian 2022 -2023 muncul rilis 17 dengan istilah 5.3G . Kemudian setelah 2024 akan rilis 18 -19 dengan istilah 5.5G. Setelah rilis 20 akan muncul 6G. 3GPP memperkirakan 6G hadir paling lambat pada 2030.

“Inilah yang akan terjadi. 5G pun akan berubah hingga menjadi 6G. Ada empat riilis lagi yang akan diperkenalkan dan masing-masing punya kelebihan,” ujar Teguh.

Manfaat pergelaran 5G tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat dan industri saja, menurut laporan 5G Business Potential from Industry Digitalization, digitalisasi industri lewat 5G, membuat pemain teknologi informasi komunikasi (TIK) berpeluang memperoleh pemasukan US$619 miliar pada 2026.

Untuk memperoleh potensi pendapatan tersebut, terdapat  tiga skema peran yang dimaikan oleh pemain TIK. Masing-masing peran memilki dampak yang berbeda-beda terhadap pendapatan mereka. Jika pemain TIK hanya berperan sebagai pengembang jaringan, potensi pendapatan yang diperoleh pada 2026 mencapai US$204 miliar.

Adapun jika pemain TIK memilih berperan sebagai pengembang jaringan dan pemberdaya layanan, potensi pendapatannya lebih tinggi lagi yaitu senilai US$541 miliar. Kemudian jika operator tercatat sebagai pencipta layanan 5G untuk industri, potensi pendapatannya senilai US$619 miliar.

Potensi pendapatan US$619 miliar itu berasal dari berbagai sektor dengan perincian sektor manufaktur senilai US$113 miliar (18%),  sektor Energi dan utilitas senilai US$101 miliar (16%), sektor keamanan publik senilai US$78 miliar (13%) dan sektor kesehatan US$76 miliar (12%).

Kemudian sektor transportasi publik senilai US$74 miliar (12%), sektor media dan hiburan senilai US$62 miliar (10%), sektor otomotif senilai US$48 miliar (8%), sektor layanan keuangan senilai US$30 miliar (5%), sektor ritel senilai US$29 miliar (5%) dan sektor agrikultur senilai US$9 miliar (1%).